Direksi Bank Mandiri memaparkan laporan keuangan triwulan III 2026 dan transformasi digital di Jakarta
Jajaran Direksi Bank Mandiri, termasuk Direktur Manajemen Risiko Danis Subyantoro, Direktur Teknologi Informasi Timothy Utama, dan Direktur Keuangan dan Strategi Novita Widya Anggraini, menunjukkan platform digital Livin dan Kopra pada Paparan Publik Kinerja Triwulan III di Jakarta. Foto: Dok. Bank Mandiri via ANTARA News / PR Wire.

Ekspansi Intermediasi dan Lonjakan Laba Bersih Konsolidasi 20,7 Persen

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan kinerja operasional yang solid hingga kuartal III 2026 dengan mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,5 triliun. Realisasi ini tumbuh 20,7 persen secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, didorong oleh akselerasi penyaluran kredit berbasis ekosistem bisnis serta peningkatan produktivitas perseroan.

Direktur Finance dan Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini memaparkan dalam paparan kinerja keuangan bahwa dari sisi fungsi intermediasi, kredit Bank Mandiri secara bank only menembus Rp1.605,8 triliun per September 2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan 16 persen YoY, meningkat signifikan jika dibandingkan laju pertumbuhan 11,6 persen pada September 2025. Pendorong utama penyaluran kredit berasal dari segmen korporasi yang mencapai Rp700 triliun, melonjak 22 persen YoY.

Selain segmen korporasi skala besar, kredit ekosistem turunan yang mencakup segmen usaha kecil dan menengah (SME), mikro, serta konsumer tercatat mencapai Rp174 triliun atau tumbuh 9 persen YoY. Pada segmen mikro produktif non-subsidi, pembiayaan mencapai Rp31,2 triliun dengan pertumbuhan 12,9 persen YoY yang telah menjangkau 37 provinsi di seluruh Indonesia. Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi tumbuh 17,7 persen YoY mencapai Rp1.750,2 triliun, melampaui laju pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 12,3 persen. Total aset konsolidasi emiten perbankan pelat merah ini kini mencapai Rp2.404,1 triliun, meningkat 20,1 persen YoY.

Kualitas Aset Terkendali dan Peningkatan Efisiensi Operasional Bank

Sejalan dengan ekspansi kredit yang agresif, Bank Mandiri tetap mempertahankan manajemen risiko yang ketat. Direktur Manajemen Risiko Danis Subyantoro menyampaikan bahwa rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) bruto secara bank only berhasil ditekan menjadi 0,98 persen per September 2026, membaik dari level 1,03 persen pada periode yang sama setahun sebelumnya. Khusus pada segmen korporasi, NPL tercatat di level rendah 0,30 persen, sedangkan kredit ekosistem turunan berada pada 0,90 persen.

Ketahanan neraca perseroan didukung oleh rasio pencadangan (NPL coverage ratio) bank only yang sangat kokoh di level 243 persen, dengan rasio biaya kredit (cost of credit) terkendali pada angka 0,55 persen. Di samping itu, rasio kredit dalam perhatian khusus (special mention loan/SML) menyusut dari 3,35 persen menjadi 2,88 persen. Tingkat permodalan bank tetap tebal dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) bank only sebesar 18,4 persen, sementara rasio loan to deposit ratio (LDR) pada akhir September 2026 berada di level 91 persen dengan rata-rata harian 94,8 persen.

Dari sisi profitabilitas operasional, pendapatan bunga bank only naik 7,08 persen YoY menjadi Rp97,3 triliun, didukung pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar Rp61,2 triliun yang naik 6,2 persen YoY. Pendapatan berbasis komisi (fee-based income) melonjak 13,8 persen YoY menjadi Rp29,4 triliun, sehingga total pendapatan bank only mencapai Rp90,6 triliun. Efisiensi tercermin dari penurunan biaya operasional sebesar 9,03 persen menjadi Rp32,7 triliun, yang menekan cost to income ratio (CIR) bank only dari 43,0 persen menjadi 36,1 persen. Rasio return on equity (ROE) mencapai 23,6 persen dan return on assets (ROA) berada di posisi 2,99 persen. Sepanjang tahun 2026, perseroan telah merealisasikan pembagian dividen total Rp50,6 triliun, termasuk dividen interim tahun buku 2026 sebesar Rp6,16 triliun.

Akselerasi Ekosistem Digital Livin, Kopra, dan Inovasi Bank Bullion

Transformasi digital menjadi mesin utama perolehan fee-based income dan perbaikan efisiensi Bank Mandiri. Direktur Information Technology Timothy Utama menjelaskan bahwa platform ritel Livin by Mandiri telah mencatatkan 42,6 juta pengguna terdaftar per September 2026. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, Livin memproses 4,18 miliar transaksi dengan volume mencapai Rp3.863 triliun, masing-masing bertumbuh 22 persen dan 20 persen YoY.

Sementara itu, platform wholesale terintegrasi Kopra by Mandiri digunakan oleh 406 ribu pelaku usaha dan nasabah korporasi. Volume transaksi yang difasilitasi Kopra mencapai nilai Rp22.801 triliun atau naik 17 persen YoY. Perseroan juga meluncurkan aplikasi Kopra Mobile berbasis biometrik wajah dan mobile token untuk mempercepat transaksi operasional nasabah bisnis di mana saja.

Sebagai terobosan baru, Bank Mandiri mengoperasikan layanan bullion bank sebagai bank konvensional pertama di Indonesia yang mengantongi izin operasional transaksi emas fisik dan tabungan emas. Layanan ini mencakup Tabungan Emas di Livin dengan pembelian mulai 0,02 gram, pembiayaan cicilan KSM Emas, hingga penarikan fisik emas batangan Antam dan UBS/HRTA melalui 28 ATM Emas dan 458 kantor cabang di berbagai kota.

Perspektif Analisis Transaksi T2T dan Posisi BMRI dalam Pembobotan Indeks

Dari perspektif pembacaan pasar Trader to Trader (T2T), rilis laporan keuangan BMRI kuartal III 2026 bertepatan dengan momentum penting pasca-rebalancing IHSG oleh Bursa Efek Indonesia per 2 November 2026. Kebijakan BEI yang mengecualikan 81 saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) mengalihkan bobot indeks secara signifikan kepada saham-saham perbankan berlikuiditas tinggi dan berfundamental mapan.

Kinerja laba bersih Rp45,5 triliun dengan pertumbuhan kredit 16 persen dan perbaikan kualitas aset menjadikan BMRI sebagai salah satu jangkar utama pergerakan indeks komposit. Likuiditas yang melimpah dan profil imbal hasil dividen berkelanjutan menarik arus dana institusional domestik maupun pemodal asing yang mencari stabilitas portofolio.

Bagi pelaku pasar modal, dinamika pergerakan saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BMRI disarankan untuk dievaluasi melalui konfirmasi data transaksi harian, konsistensi akumulasi dan distribusi broker flow, serta ketahanan level penawaran pada orderbook. Informasi ini disajikan secara faktual sebagai tinjauan kinerja emiten dan edukasi pasar modal, bukan merupakan anjuran, rekomendasi, maupun ajakan untuk melakukan transaksi beli atau jual efek tertentu.

Sumber utama

ANTARA News & Bisnis.com ↗ — finansial.bisnis.com ↗

Catatan: Berita ini disusun dari sumber yang dicantumkan dan bersifat informasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual efek.