
Pertumbuhan Laba Bersih Rp21 Miliar dan Penyaluran Kredit Digital Rp24,73 Triliun
Emiten bank digital anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), yakni PT Bank Raya Indonesia Tbk (kode saham BEI: AGRO), membukukan perolehan laba bersih konsolidasi sebesar Rp21 miliar hingga periode kuartal III-2026. Berdasarkan keterbukaan informasi dan rilis resmi perseroan pada Jumat (30/10/2026), kinerja positif ini ditopang oleh percepatan ekspansi pembiayaan digital dan perbaikan struktur pendanaan.
Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026, total penyaluran kredit digital Bank Raya tercatat menembus Rp24,73 triliun. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 20% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan penyaluran tersebut didorong oleh tingginya penetrasi produk pembiayaan jangka pendek, antara lain Pinang Dana Talangan yang mencatatkan realisasi penyaluran sebesar Rp22,01 triliun atau naik 25,3% YoY. Sementara itu, baki debet atau outstanding kredit digital perseroan per akhir September 2026 mencapai Rp3,04 triliun, tumbuh 11,3% YoY. Pertumbuhan ini sejalan dengan strategi perseroan dalam memperluas jangkauan pembiayaan mikro dan gig economy di dalam ekosistem BRI Group.
Ekspansi Simpanan Digital dan Peningkatan Rasio CASA Menjadi 35,83 Persen
Di sisi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), Bank Raya mencatatkan penguatan pada porsi dana murah (current account saving account/CASA). Simpanan digital perseroan (Digital Saving) tumbuh sebesar 35,6% YoY menjadi Rp2,4 triliun hingga akhir kuartal III-2026.
Akselerasi simpanan digital ini didorong oleh peningkatan adopsi kanal digital melalui Aplikasi Raya. Total aktivitas transaksi melalui aplikasi tersebut mencapai 4,9 juta transaksi sepanjang sembilan bulan pertama 2026, melonjak 44,7% YoY dibandingkan posisi September 2025.
Lonjakan transaksi berbasis aplikasi tersebut mengangkat rasio CASA Bank Raya menjadi 35,83%, naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 29,78%. Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia menyatakan bahwa perbaikan rasio dana murah membuktikan semakin kuatnya peran Digital Saving dalam menurunkan beban dana sekaligus memperkokoh fundamental bisnis digital perseroan secara berkelanjutan.
Perbaikan Signifikan Kualitas Aset dan Penguatan Margin Bunga Bersih
Peningkatan volume bisnis perseroan diiringi dengan disiplin manajemen risiko yang terlihat dari perbaikan kualitas aset produktif. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) kotor (gross) Bank Raya per akhir September 2026 berhasil ditekan ke posisi 2,53%, membaik sebesar 203 basis poin (bps) secara tahunan.
Pada saat yang sama, rasio NPL neto perseroan menyusut sebesar 131 bps YoY menjadi 0,41%. Penurunan rasio kredit bermasalah ini mencerminkan keberhasilan proses seleksi debitur berbasis analitika data dan penagihan terintegrasi pada portofolio pinjaman digital.
Dari aspek profitabilitas intermediasi, rasio margin bunga bersih (net interest margin/NIM) Bank Raya terdongkrak naik 83 bps YoY menjadi 5,83%. Peningkatan NIM ini merupakan hasil perpaduan antara yield pembiayaan digital yang terjaga serta efisiensi beban bunga berkat peningkatan porsi CASA. Adapun rasio likuiditas (loan to deposit ratio/LDR) perseroan tercatat berada pada level terukur di angka 78,65%.
Konteks Transformasi Bank Digital dan Pertimbangan Risiko bagi Pelaku Pasar
Dalam lanskap perbankan nasional, Bank Raya beroperasi sebagai digital attacker dalam naungan BRI Group dengan memanfaatkan jaringan online-to-offline (O2O) agen laku pandai dan unit kerja induk usaha. Transformasi dari entitas komersial konvensional agribisnis menjadi bank digital kini mulai menunjukkan normalisasi neraca, ditandai dengan penurunan beban pencadangan dan pemulihan laba operasional.
Dalam perspektif analisis pasar modal T2T, pencapaian laba Rp21 miliar dan penurunan NPL gross ke level 2,53% memberikan sinyal validasi atas efektivitas model bisnis digital yang berfokus pada ekosistem terikat (captive ecosystem). Namun, pelaku pasar tetap perlu mencermati durabilitas perputaran pinjaman jangka pendek, potensi sensitivitas daya beli pelaku usaha mikro, serta tren beban operasional teknologi informasi ke depan.
Bagi investor dan trader saham, rilis kinerja keuangan kuartal III-2026 merupakan keterbukaan informasi fundamental yang mencerminkan arah pemulihan emiten. Kendati demikian, fluktuasi pergerakan harga saham AGRO di Bursa Efek Indonesia dipengaruhi oleh likuiditas transaksi, sentimen rotasi sektor finansial, serta dinamika pasar modal secara luas. Disiplin rencana perdagangan dan evaluasi risiko tetap menjadi landasan utama dalam pengambilan keputusan investasi.