Suasana perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia
Ilustrasi lantai perdagangan Bursa Efek Indonesia. (Bisnis/Himawan L. Nugraha)

Struktur Rights Issue dan Keterlibatan Investor Strategis

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) resmi mengumumkan rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD II) atau rights issue dengan target penghimpunan dana segar mencapai Rp1,53 triliun. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan menerbitkan sebanyak 6.154.263.660 (6,15 miliar) saham baru dengan nilai nominal Rp50 per saham dan harga pelaksanaan ditetapkan di level Rp250 per saham. Jumlah saham baru tersebut setara dengan 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah penyelesaian PMHMETD II.

Rasio rights issue ditetapkan 4:1, di mana setiap pemegang 4 saham lama yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 15 Oktober 2026 pukul 16.00 WIB berhak memperoleh 1 HMETD. Pemegang saham pengendali, PT Nusantara Utama Investama (NUI) yang menguasai 61,07% saham BUVA, menyatakan komitmennya mengeksekusi 3,47 miliar HMETD dan mengalihkan sisa 284 juta HMETD ke PT Tata Tirta Datun (TTD). Menariknya, jika terdapat sisa saham baru yang tidak terserap, BUVA telah mengunci komitmen pembeli siaga dari sejumlah figur dan entitas ternama, antara lain Ferry Sudjono, pengusaha Happy Hapsoro, PT Henan Putihrai Sekuritas, serta PT Tata Tirta Datun. Bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya, potensi dilusi kepemilikan tercatat maksimal 20%.

Alokasi Dana Segar dan Analisis Konteks T2T

Dari total dana bersih Rp1,53 triliun, BUVA merancang alokasi strategis untuk restrukturisasi neraca keuangan dan ekspansi portofolio properti perhotelan. Alokasi terbesar diserap untuk ekspansi Resor Uluwatu melalui penyertaan modal di PT Bukit Bali Permai (BBP) senilai Rp426,33 miliar, termasuk akuisisi PT Royal Uluwatu Residence (RUR) senilai Rp199,25 miliar dan pengembangan West Resort hingga 2029. Di sisi lain, perseroan memperkuat ketahanan finansial dengan mengalokasikan Rp417,80 miliar guna mempercepat pelunasan seluruh sisa pokok utang kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Dalam kacamata T2T (Trader to Trader), langkah BUVA melunasi utang perbankan secara signifikan akan menurunkan beban keuangan (interest expense) dan memperbaiki rasio leverage perseroan pascarestrukturisasi. Namun, bagi pelaku pasar dan trader harian, keberadaan harga pelaksanaan rights issue di level Rp250 per saham menjadi jangkar valuasi teoritis yang perlu dipantau terhadap harga pasar reguler. Aliran dana dari pembeli siaga kakap seperti Happy Hapsoro memberikan bantalan serapan ekuitas, tetapi likuiditas riil saat periode pelaksanaan tetap menjadi kunci pergerakan harga pasca-penerbitan.

Sumber utama

Bisnis.com ↗

Catatan: Berita ini disusun dari sumber yang dicantumkan dan bersifat informasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual efek.