Ilustrasi operasional ekosistem PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk
Operasional ekosistem PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Perseroan berhasil mencetak laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut pada tahun buku 2026 dan menaikkan proyeksi target EBITDA yang disesuaikan. Foto: Dok. GOTO via CNBC Indonesia.

Pembalikan Kinerja Finansial dan Tren Laba Bersih Beruntun

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (kode saham: GOTO) mencatatkan tonggak sejarah penting dalam laporan keuangan konsolidasian per 30 September 2026 yang disampaikan secara resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten ekosistem digital terbesar di Indonesia ini berhasil memperpanjang tren profitabilitas positif dengan membukukan laba bersih selama tiga kuartal berturut-turut sepanjang tahun 2026.

Khusus pada periode kuartal III-2026 (Juli-September), GOTO membukukan laba bersih sebesar Rp441 miliar. Realisasi ini mencerminkan perbaikan signifikan sekaligus membalikkan posisi rugi bersih sebesar Rp255 miliar yang tercatat pada kuartal III-2025. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan nilai transaksi bruto inti (core GTV) yang melesat 89% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp194 triliun, diiringi pertumbuhan basis pengguna bertransaksi tahunan (annual transacting users/ATU) sebesar 16% YoY mencapai 72,5 juta pengguna.

Secara kumulatif selama sembilan bulan pertama tahun 2026 (Januari-September), laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,16 triliun. Posisi tersebut berbalik tajam dari kerugian bersih Rp775,55 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja impresif ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bersih konsolidasi sebesar 24,5% YoY menjadi Rp16,55 triliun, dibandingkan Rp13,30 triliun pada sembilan bulan pertama 2025.

Kinerja Segmen Usaha dan Lonjakan Bisnis Fintech

Pertumbuhan pendapatan GOTO selama sembilan bulan tahun 2026 disokong secara merata oleh lini-lini bisnis strategis. Jasa pengiriman (on-demand delivery) menyumbang porsi pendapatan terbesar senilai Rp4,73 triliun, tumbuh 11,39% YoY dari Rp4,25 triliun. Pendapatan dari imbalan jasa transaksi mencapai Rp4,60 triliun, meningkat 11% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp4,15 triliun.

Pertumbuhan paling ekspansif dicatatkan oleh segmen bisnis teknologi finansial (fintech) pinjaman GoPay. Pendapatan dari lini pinjaman digital ini melesat 59% YoY menjadi Rp4,25 triliun, dari sebelumnya Rp2,68 triliun pada periode sembilan bulan 2025. Di sisi lain, imbalan jasa e-commerce atas kemitraan transaksi Tokopedia dan TikTok Shop menyumbangkan pendapatan sebesar Rp786,18 miliar, tumbuh 25% YoY dari posisi Rp627,82 miliar, ditambah lini pendapatan iklan sebesar Rp360,36 miliar serta pendapatan lainnya Rp1,82 triliun.

Disiplin efisiensi beban operasional yang ketat turut memperkuat marjin laba. Beban pengembangan produk berhasil diturunkan 1,9% menjadi Rp1,54 triliun. Alhasil, GOTO membukukan laba usaha kumulatif sembilan bulan sebesar Rp1,13 triliun, berbalik positif dari posisi rugi usaha Rp222,37 miliar pada periode sembilan bulan 2025. Pada kuartal III-2026, EBITDA Grup yang disesuaikan (adjusted EBITDA) melonjak 84% YoY menjadi Rp950 miliar, kendati telah memperhitungkan dampak penyesuaian komisi 8% pada layanan transportasi roda dua GoRide selama satu kuartal penuh.

Revisi Target EBITDA Tahunan, Buyback Saham, dan Pembatalan Saham Tresuri

Menanggapi realisasi keuangan yang solid dan melampaui estimasi awal, manajemen GOTO resmi menaikkan target pedoman kinerja tahun 2026. Direktur Utama GOTO Hans Patuwo menyatakan bahwa perseroan menaikkan target EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun, naik dari target panduan sebelumnya di rentang Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun.

Kenaikan target tersebut didorong oleh performa bisnis fintech yang melaju kencang, di mana target EBITDA disesuaikan untuk segmen finansial dinaikkan ke kisaran Rp1,9 triliun hingga Rp2,0 triliun dari sebelumnya Rp1,7 triliun hingga Rp1,8 triliun. Untuk segmen On-Demand Services (ODS), pedoman EBITDA disesuaikan berada di rentang Rp1,4 triliun hingga Rp1,6 triliun, dengan tetap memperhitungkan dinamika regulasi sektor pengantaran digital yang tengah disiapkan regulator.

Dari aspek struktur permodalan dan pengembalian nilai bagi pemegang saham, GOTO telah mengeksekusi pembelian kembali (buyback) saham sebanyak 36 miliar lembar saham dengan serapan dana Rp985 miliar hingga akhir Oktober 2026, dari total plafon anggaran yang masih menyisakan Rp2,5 triliun. Selain itu, perseroan telah mengantongi persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk melakukan pembatalan sebanyak 32 miliar lembar saham tresuri (sekitar 2,7% dari total modal disetor), yang diperkirakan efektif dalam 2-3 bulan ke depan guna meningkatkan persentase kepemilikan investor publik secara proporsional.

Perspektif Pasar dan Manajemen Risiko Bagi Pelaku Pasar

Capaian laba operasional dan laba bersih konsisten selama tiga kuartal membuktikan bahwa restrukturisasi model bisnis perseroan berhasil membawa ekosistem ke fase monetisasi yang terukur. Peningkatan arus kas bebas yang disesuaikan (adjusted free cash flow) menjadi Rp1,21 triliun pada kuartal III-2026 memberikan bantalan likuiditas yang memadai bagi pengembangan infrastruktur teknologi dan penetrasi pasar ke depan.

Kendati demikian, pelaku pasar modal disarankan memandang rilis kinerja fundamental ini secara objektif dalam konteks dinamika pergerakan harga saham di pasar reguler. Saham sektor teknologi di Bursa Efek Indonesia masih memiliki sensitivitas tinggi terhadap likuiditas pasar, pergerakan indeks acuan, serta perilaku arus dana investor institusi dan asing.

Dalam strategi trading dan investasi, konfirmasi kekuatan fundamental perlu diselaraskan dengan disiplin analisis teknikal, pemantauan volume transaksi harian, dan pembacaan orderbook secara cermat. Fluktuasi harga saham jangka pendek tidak serta-merta bergerak linier dengan pertumbuhan laba kuartalan, sehingga penerapan manajemen risiko dan alokasi modal yang terukur tetap menjadi prioritas utama bagi setiap pelaku pasar.

Sumber utama

Keterbukaan Informasi BEI & CNBC Indonesia ↗ — market.bisnis.com ↗ — money.kompas.com ↗

Catatan: Berita ini disusun dari sumber yang dicantumkan dan bersifat informasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual efek.