
IHSG Ditutup di 6.093, Kapitalisasi Pasar Naik Rp74 Triliun
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan data perdagangan saham periode 5-9 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,94 persen ke level 6.093,759 dari posisi 6.036,888 pada pekan sebelumnya, atau setara kenaikan 56,87 poin. Keterangan resmi BEI itu disampaikan P.H. Sekretaris Perusahaan BEI Aulia Noviana Utami Putri dan dikutip media pada Minggu (11/10/2026).
Penguatan indeks sejalan dengan kenaikan kapitalisasi pasar BEI sebesar Rp74 triliun atau 0,69 persen menjadi Rp10.701 triliun, dari Rp10.627 triliun pada pekan sebelumnya. Melansir statistik BEI, IHSG bergerak pada rentang terendah 5.995 dan tertinggi 6.216 sepanjang pekan tersebut.
Dari sisi likuiditas, rata-rata nilai transaksi harian mencatat kenaikan tertinggi, yaitu 28,52 persen menjadi Rp16,23 triliun dari Rp12,63 triliun. Namun rata-rata volume transaksi harian justru turun 7,62 persen menjadi 46,53 miliar lembar saham dari 50,37 miliar lembar, dan rata-rata frekuensi transaksi harian susut 0,27 persen menjadi 1,67 juta kali dari 1,68 juta kali.
Artinya, nilai transaksi yang lebih besar pada pekan ini ditopang transaksi bernilai tinggi dengan jumlah lembar dan frekuensi yang lebih sedikit, bukan oleh lonjakan jumlah order di pasar. Data itu menunjukkan penguatan indeks tidak disertai perluasan partisipasi transaksi harian.
Asing Masih Jual Bersih Rp2,44 Triliun, Tekanan Mulai Melandai
Investor asing membukukan jual bersih atau net sell sebesar Rp2,44 triliun pada pekan 5-9 Oktober 2026. Angka itu turun 51,44 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang mencapai Rp5,04 triliun. Secara rinci, nilai beli investor asing tercatat Rp17,57 triliun, sementara nilai jualnya Rp20,01 triliun.
Komposisi transaksi turut berubah. Partisipasi investor domestik meningkat menjadi 77 persen dari 59 persen pada pekan sebelumnya, sedangkan porsi investor asing turun menjadi 23 persen dari 41 persen. Pada perdagangan Jumat (9/10/2026), investor asing bahkan mencatat beli bersih Rp30,4 miliar.
Meski tekanan jual melandai, posisi asing secara akumulatif masih negatif. Sepanjang 2026 hingga 9 Oktober, jual bersih investor asing mencapai Rp84,99 triliun, naik dari Rp82,55 triliun pada pekan sebelumnya. Angka tersebut menggambarkan bahwa penurunan intensitas jual asing dalam sepekan belum mengubah arah aliran dana asing sepanjang tahun.
Saham Penopang Indeks dan Cara Membacanya
Sejumlah saham menjadi penopang utama kenaikan IHSG pekan ini. PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) memberi kontribusi terbesar, yaitu 9,24 poin, seiring kenaikan harga sahamnya 11,88 persen. Berikutnya PT Astra International Tbk (ASII) menyumbang 7,71 poin setelah naik 4,1 persen, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) 6,48 poin dengan kenaikan 4,01 persen, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) 6,45 poin setelah menguat 3,11 persen.
PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menambah 3,70 poin dengan kenaikan 5,19 persen, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) berkontribusi 3,34 poin setelah naik 3,51 persen, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang 2,95 poin dengan kenaikan 0,65 persen. Di sisi lain, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi penahan indeks terbesar dengan pelemahan 4,59 persen atau bobot negatif 5,05 poin.
Sebagai konteks, IHSG masih tertekan sepanjang 2026. Hingga akhir September 2026, indeks tercatat terkoreksi 29,79 persen secara year-to-date. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut tekanan pasar tahun ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari ketidakpastian geopolitik, kenaikan harga komoditas, ekspektasi suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama, hingga penilaian penyedia indeks global terhadap pasar Indonesia.
Dalam kacamata TradertoTrader (T2T), data sepekan ini menunjukkan penguatan indeks yang bertumpu pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, sementara tekanan jual asing belum sepenuhnya berbalik arah. Membaca aliran dana asing sebaiknya ditempatkan berdampingan dengan broker flow, pola akumulasi dan distribusi broker, serta transaksi big money agar arah dana terlihat lebih utuh. Informasi ini bersifat edukatif dan bukan rekomendasi membeli atau menjual efek.