Proyek pembangunan konstruksi dan fasilitas infrastruktur PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)
Aktivitas pengerjaan konstruksi infrastruktur PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Penerapan prinsip four eyes principle dalam seleksi proyek serta disiplin restrukturisasi utang menopang pertumbuhan penjualan 11,9% YoY dan lonjakan kontrak baru hingga kuartal III-2026. Foto: Dok. WIKA via CNBC Indonesia.

Ekspansi Penjualan Rp15,80 Triliun dan Lonjakan Kontrak Baru 57,9 Persen

Emiten konstruksi dan infrastruktur pelat merah, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (kode saham BEI: WIKA), mencatatkan pemulihan kinerja operasional yang solid sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2026. Berdasarkan laporan kinerja keuangan hingga kuartal III-2026 yang disampaikan pada Jumat (30/10/2026), perseroan membukukan peningkatan penjualan sebesar 11,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp15,80 triliun.

Realisasi penjualan tersebut ditopang oleh kontribusi proyek non Kerja Sama Operasi (non-KSO) sebesar Rp9,04 triliun dan penjualan dari proyek skema Kerja Sama Operasi (KSO) senilai Rp6,77 triliun. Pertumbuhan omzet perseroan berjalan beriringan dengan akselerasi perolehan kontrak baru yang signifikan.

Hingga akhir kuartal III-2026, WIKA berhasil mengamankan perolehan kontrak baru sebesar Rp9,78 triliun, melonjak 57,9% YoY dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Manajemen menegaskan bahwa pencapaian ini didorong oleh konsistensi langkah transformasi dan penyehatan perseroan yang telah digulirkan sejak tahun 2023. Perseroan menerapkan seleksi proyek ketat (project selection) berbasis prinsip kehati-hatian empat mata (four eyes principle) dengan memprioritaskan skema pembayaran uang muka serta pembayaran progres bulanan untuk memastikan kecukupan likuiditas proyek secara mandiri.

Penguatan Margin Profitabilitas dan Keberhasilan Efisiensi Operasional

Penerapan tata kelola proyek yang lebih selektif memberikan dampak nyata terhadap penguatan kualitas marjin dan profitabilitas perseroan. WIKA membukukan laba kotor sebesar Rp1,09 triliun hingga akhir September 2026, meningkat 44,4% YoY dibandingkan posisi kuartal III-2025. Seiring dengan itu, margin laba kotor (gross profit margin) perseroan terkerek naik menjadi 12,11%, dari sebelumnya sebesar 8,34% pada periode yang sama tahun lalu.

Pada lini bisnis utama, perseroan berhasil membukukan laba usaha sebesar Rp754,33 miliar, melesat 162,1% secara tahunan. Sementara itu, EBITDA core operasi di luar dampak penyertaan investasi pada proyek penugasan kereta cepat tercatat mencapai Rp957,84 miliar, melonjak 148,4% YoY.

Efisiensi operasional juga tercermin dari keberhasilan program lean management yang diterapkan manajemen. Rasio beban operasional (Operating Expense Ratio) perseroan berhasil ditekan menjadi 5,34% pada kuartal III-2026. Corporate Secretary WIKA, Ngatemin, menyampaikan bahwa peningkatan penjualan yang diiringi ekspansi margin mencerminkan keberhasilan strategi bisnis dalam memperkuat pasar sekaligus menjaga kegiatan operasional yang ramping dan terukur guna menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Pemangkasan Utang Rp1,42 Triliun dan Progres Restrukturisasi Finansial

Dari sisi struktur neraca permodalan, perseroan menunjukkan komitmen berkelanjutan dalam memperkuat fundamental keuangan melalui pengurangan liabilitas. Total utang perseroan per akhir kuartal III-2026 berhasil diturunkan sebesar Rp1,42 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan liabilitas tersebut mencakup pemangkasan utang berbunga (interest-bearing debt) sebesar Rp505 miliar serta pelunasan utang usaha senilai Rp914,54 miliar. Langkah penurunan kewajiban ini menjadi bagian penting dari peta jalan penyehatan keuangan perseroan.

Di tengah proses penyehatan yang berlangsung, perseroan terus menjalin komunikasi intensif dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemegang saham, regulator, dan kreditur. Dukungan ini diarahkan untuk menuntaskan restrukturisasi komprehensif, pengembalian permodalan kerja, serta evaluasi opsi divestasi pada proyek penugasan kereta cepat demi menekan beban bunga dan potensi beban kerugian penugasan. Adapun struktur pemegang surat utang (obligasi dan sukuk) perseroan saat ini terdiri atas 206 investor perorangan, 88 lembaga dana pensiun, serta 154 lembaga keuangan.

Konteks Sektor Konstruksi BUMN dan Pertimbangan Risiko bagi Pelaku Pasar

Sektor konstruksi BUMN di Indonesia telah melewati fase tekanan neraca keuangan dan restrukturisasi utang yang berkepanjangan pasca ekspansi infrastruktur masif beberapa tahun terakhir. Keberhasilan WIKA dalam memangkas utang berbunga, meningkatkan margin kotor di atas level 12%, serta menjaga rasio beban operasional rendah memberikan sinyal awal pemulihan fundamental operasional.

Kendati demikian, dalam perspektif analisis pasar modal T2T, pemulihan emiten konstruksi karya tetap memerlukan evaluasi mendalam atas arus kas operasional (operating cash flow) jangka panjang dan kecepatan realisasi pembayaran proyek pemerintah maupun swasta. Beban keuangan atas sisa kewajiban penugasan infrastruktur skala besar masih menjadi faktor yang perlu dipantau secara cermat oleh investor institusi.

Bagi pelaku pasar modal, perbaikan kinerja sembilan bulan 2026 merupakan perkembangan positif dari sisi keterbukaan informasi emiten. Namun, volatilitas harga saham di pasar reguler dipengaruhi oleh berbagai faktor likuiditas, rotasi sektoral, serta sentimen pasar secara keseluruhan. Disiplin pembacaan struktur transaksi pasar dan kepatuhan terhadap rencana manajemen risiko tetap menjadi pilar utama dalam menyikapi dinamika saham sektor infrastruktur.

Sumber utama

CNBC Indonesia & Bisnis.com ↗ — ekonomi.bisnis.com ↗

Catatan: Berita ini disusun dari sumber yang dicantumkan dan bersifat informasi, bukan rekomendasi membeli atau menjual efek.